Bangkalan – Inflasi Gelar dan Perburuan Penghormatan Akademik: Sebuah Refleksi

0
InCollage_20260130_080803539

CNBC Media Net Surabaya Tulisan Achdiar Redy tentang inflasi gelar dan perburuan penghormatan akademik di Indonesia telah menyentuh hati banyak orang, termasuk saya, seorang dosen biasa. Ia mengajak kita untuk melihat gejala kultural di dunia kampus, di mana gelar, jabatan, dan simbol akademik telah bergeser dari sarana tanggung jawab ilmiah menjadi tujuan itu sendiri.

Inflasi gelar bukan sekadar soal banyaknya titel yang disematkan di depan atau belakang nama, tetapi gejala ketika penghormatan akademik lebih dicari daripada keheningan berpikir. Tekanan untuk cepat naik jabatan, memenuhi angka kredit, mengejar publikasi bereputasi, dan mendapatkan pengakuan sering kali membuat niat awal menuntut ilmu menjadi kabur.

Al-Qur’an mengingatkan kita untuk tidak mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kita dari jalan Allah (QS. Shad: 26). Dalam ayat lain, Allah juga mengingatkan kita untuk tidak berlebih-lebihan (QS. Al-A’raf: 31). Peringatan ini relevan dalam dunia akademik modern, di mana ambisi itu penting, tetapi tanpa kendali ia mudah berubah menjadi hasrat pengakuan.

Sebagai dosen biasa, saya merasakan dilema ini: di satu sisi, publikasi adalah kewajiban profesional; di sisi lain, ada kegelisahan ketika proses ilmiah terasa dipercepat secara artifisial. Mungkin yang kita perlukan bukan penambahan gelar atau penghormatan baru, melainkan keberanian untuk menata ulang niat, etos kerja, dan budaya akademik kita.

Gelar boleh bertambah, publikasi boleh meningkat, tetapi jiwa akademik harus tetap dijaga. Dalam bahasa Jawa: “aja nganti keblinger amarga kemilau”. Dan dalam bahasa Madura: “jâ’ sampek elmo ngala’ jiwa” – jangan sampai ilmu justru merampas jiwa kita sendiri. Kita harus menjaga agar ilmu tetap menjadi cahaya, bukan cermin ego.

Jurnalis Idm/isw89 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *