Jamaah KBIHU Al-Gratis Bangkalan Teteskan Air Mata Saat Pertama Kali Tatap Ka’bah
CNBC MEDIA NET MAKKAH — Tangis haru pecah di pelataran Masjidil Haram pada Minggu malam, 10 Mei 2026. Puluhan jamaah KBIHU Al-Gratis (AG) Bangkalan untuk pertama kalinya menunaikan umrah wajib, momen yang mereka tunggu seumur hidup.
Sekitar pukul 23.00 WAS, rombongan bergerak pelan dari Shaza Asil Hotel menuju Terminal Syib Amir. Tak ada canda tawa, hanya lantunan talbiyah lirih dan genggaman erat pada tas kecil yang menemani. Suasana hening menyelimuti, seolah semua energi difokuskan pada satu tujuan: berdiri di hadapan Baitullah.
Tatap Pertama Ka’bah Bikin Tak BerdayaMomen paling menggetarkan terjadi saat pintu As-Salam terbuka dan Ka’bah terlihat jelas di depan mata. Banyak jamaah mendadak terdiam. Beberapa spontan menangis, sebagian memegang dada menahan degup jantung, lainnya hanya bisa beristighfar berulang kali.
“Selama ini hanya lihat lewat layar. Malam itu benar-benar nyata, dekat, dan membuat dada sesak,” ujar salah satu jamaah yang enggan disebut namanya.
Di tengah lautan jamaah dari berbagai negara, rombongan AG Bangkalan memulai thawaf tujuh putaran. Setiap langkah terasa berat sekaligus ringan. Berat karena beban dosa yang dibawa, ringan karena harapan ampunan yang menguat.
Sa’i dan Tahallul: Perjalanan Jiwa Menuju Pasrah Usai thawaf, jamaah melanjutkan sa’i antara Shafa dan Marwah. Meski kaki mulai lelah, zikir dan isak tangis tak berhenti. Bagi mereka, ibadah ini bukan sekadar rangkaian ritual, tapi perjalanan batin menuju kepasrahan total kepada Allah SWT.
Rangkaian umrah ditutup dengan tahallul sekitar pukul 01.00 dini hari, Senin, 11 Mei 2026. Potongan rambut yang jatuh terasa seperti simbol dosa yang berguguran dan lembaran hidup baru yang dimulai.
Duduk Lama di Hadapan Ka’bah, Panjatkan Doa TerpanjangSetelah salat sunnah thawaf, banyak jamaah memilih tidak beranjak. Mereka duduk menghadap Ka’bah, mencurahkan doa panjang: memohon ampunan, kesehatan keluarga, keberkahan hidup, dan kesempatan kembali ke Tanah Suci.

“Ada yang menangis karena merasa terlalu banyak dosa. Ada yang menangis karena tak menyangka bisa sampai sini. Ada juga yang menangis tanpa alasan, hanya karena hatinya disentuh Allah,” kata pendamping rombongan.
Proses ibadah didampingi langsung oleh pembimbing KBIHU Al-Gratis, Mohamad Djasuli. Ia memastikan jamaah tidak hanya menjalankan rukun secara teknis, tetapi juga menghayati setiap prosesi dengan tenang dan tertib.
“Kami memegang prinsip: Melayani Orang Ibadah Kewajiban Kami, Bukan Bisnis Kami. Jadi pendampingan ini murni untuk membantu jamaah fokus pada Allah,” ujar Djasuli.
Undangan Tak Terucap Kisah malam itu meninggalkan gema bagi siapa saja yang mendengarnya. Rasa ingin berada di sana, melihat Ka’bah langsung, dan bersujud sambil menangis tiba-tiba muncul di dada.
Bagi KBIHU Al-Gratis, ini bukan sekadar perjalanan wisata religi. Ini perjalanan hati yang diharapkan bisa mengantarkan lebih banyak jamaah mengucapkan “Labbaik Allahumma Labbaik” tahun depan.
Penulis isw 89
Sumber KBIHU AL GRATIS
